Sejarah
Desa Kedungbondo terletak di Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur, dengan luas wilayah 268,19 ha berupa dataran rendah. Lokasinya yang dekat dengan bantaran Sungai Bengawan Solo memberikan pengaruh besar terhadap kondisi agraria desa. Di satu sisi, sungai ini menyuplai kebutuhan air pertanian melalui sistem irigasi teknis sehingga sebagian besar lahan subur dan produktif, terutama untuk padi dan palawija — menjadikan Kedungbondo salah satu desa penghasil padi terbanyak di Kecamatan Balen. Di sisi lain, kedekatan dengan sungai membawa risiko banjir musiman akibat luapan Bengawan Solo yang sewaktu-waktu menggenangi lahan pertanian hingga menyebabkan gagal panen serta merendam rumah warga.
Dahulu, Desa Kedungbondo dikenal memiliki Pasar Apung yang menjadi pusat aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat, terutama di wilayah Dusun Kedung. Pasar ini menjadi tempat warga berdagang dan bertukar hasil bumi secara tradisional di atas perahu di bantaran sungai. Seiring perkembangan zaman dan perubahan pola perdagangan, Pasar Apung kini sudah tidak ada lagi dan hanya tersisa dalam kenangan kolektif masyarakat sebagai bagian dari sejarah ekonomi desa.
Dalam aspek spiritual dan religius, ajaran Islam mulai masuk ke Desa Kedungbondo melalui tokoh ulama bernama Kyai Tafsir. Beliau dikenal menyebarkan ajaran Islam dengan pendekatan dakwah yang lembut dan membaur dengan budaya masyarakat setempat. Keberadaan Kyai Tafsir menjadi tonggak awal tumbuhnya kehidupan keagamaan yang kuat di Kedungbondo, dan nilai-nilai Islam berkembang serta diwariskan dari generasi ke generasi hingga kini.
Masyarakat Desa Kedungbondo juga mempercayai adanya sosok leluhur atau pelindung desa yang dikenal dengan sebutan Dahyang Raden Kenur. Raden Kenur dipercaya sebagai tokoh spiritual yang memiliki pengaruh kuat dalam sejarah awal terbentuknya desa. Hingga kini, nama Raden Kenur tetap dihormati sebagai bagian dari budaya lokal dan menjadi simbol penjaga harmoni desa, terutama dalam berbagai kegiatan adat dan tradisi.
Visi & Misi
Terbangunnya Tata Kelola Pemerintah Desa yang Baik dan Bersih Guna Mewujudkan Desa Kedungbondo yang Adil, Makmur, Sejahtera dan Bermanfaat yang Religius.
- Menyelenggarakan Pemerintah Desa yang baik dan bersih, demokratis, serta terbebas dari korupsi, nepotisme, dan bentuk-bentuk penyelewengan lainnya.
- Mengembangkan perekonomian masyarakat melalui pemanfaatan potensi desa.
- Meningkatkan mutu kesejahteraan masyarakat untuk mencapai taraf kehidupan yang lebih baik dan berpendidikan.
Struktur Pemerintahan
Batas Wilayah
- Utara
- Desa Glagahsari, Kec. Soko, Kab. Tuban
- Timur
- Desa Sumuragung, Kec. Sumberrejo, Kab. Bojonegoro
- Selatan
- Desa Pekuwon, Kec. Sumberrejo, Kab. Bojonegoro
- Barat
- Desa Margomulyo, Kec. Balen, Kab. Bojonegoro
Potensi Desa
- Pertanian padi dan palawija dengan irigasi teknis
- Salah satu desa penghasil padi terbanyak di Kecamatan Balen
- Lahan pertanian subur di dataran rendah dekat Bengawan Solo
Demografi
- 4.337
- Jiwa penduduk
- 1.390
- Kepala keluarga
- 29
- Rukun Tetangga
- 3
- Rukun Warga
- 268,19 ha
- Luas wilayah
Terdiri atas 4 dusun:
- Besuki
- Kedung
- Ngetuk
- Gampeng